YKPI Menghadiri European Society for Medical Oncology (ESMO): Patient Engagement Summit 2025 di Singapura
Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menjadi perwakilan Indonesia menghadiri Patient Engagement Summit 2025 yang diselenggarakan oleh European Society for Medical Oncology (ESMO) pada 5–7 Desember 2025 di Suntec Convention Center, Singapura.
Di tahun ini, ESMO Patient Engagement Summit 2025 mengangkat tema “Promoting Equal Access to Optimal Cancer Care in Asia Pacific”.
Acara ini menyatukan para pendamping pasien, tenaga kesehatan, dan para perwakilan industri di bidang kesehatan untuk mengembangkan solusi agar para penyintas kanker bisa mendapatkan akses yang setara dalam mendapatkan perawatan yang optimal di kawasan Asia-Pasifik.
Terdapat 38 organisasi dari 12 negara yang menjadi partisipan dalam pertemuan internasional ini. Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menjadi satu-satunya organisasi yang hadir sebagai perwakilan dari Indonesia.
Dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, para peserta berpartisipasi dalam sesi informatif, kuliah singkat yang dipimpin oleh para ahli, dan lokakarya interaktif. Tujuannya, untuk meningkatkan pembelajaran, membina koneksi, dan memperkuat kolaborasi di antara perwakilan pasien, tenaga kesehatan, para pelaku industri.
Baca juga: Tennis Pinktober 2025: Peduli Kanker Payudara Melalui Turnamen Olahraga
YKPI yang diwakili oleh Ibu Aya Tri Handaka dari Bidang Organisasi, juga menyampaikan terkait program Pelatihan Pendamping Pasien Kanker Payudara yang ikut berpartisipasi dan berkolaborasi dengan negara-negara di Asia Pasifik, untuk meningkatkan kualitas pendampingan pasien (patient advocate).
Di pertemuan ini, YKPI juga mengangkat topik “Return to Work and The Right to be Forgotten” yang menjadi masalah mendasar setelah pasien menyelesaikan rangkaian pengobatan kanker yang memakan waktu cukup lama dan menghilangkan stigma negatif pada pasien kanker payudara yang masih dialami di sebagian negara di Asia Pasifik yang menghambat kreativitas penyintas kanker payudara.
Dalam penanganan kanker, suara pasien sangatlah penting agar kebijakan, riset, dan layanan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.
Fakta menunjukkan bahwa akses terhadap diagnosis, pengobatan, perawatan lanjutan, biaya, dan disparitas antar negara masih menjadi tantangan khusus di kawasan Asia Pasifik.
Diharapkan suara pasien dari beberapa negara dapat terwakili, serta mendorong kebijakan kesehatan berbasis pasien. Tujuannya agar pembuatan aturan, pendanaan, persetujuan obat dan terapi, serta layanan kanker mempertimbangkan pengalaman dan kebutuhan pasien.